Postingan

Menampilkan postingan dengan label Rohaniawan Muallaf

Inspirasi Muallaf - Kisah Hj. Irena Handono Muallaf

Ketika menjadi muallaf pada 1983 lalu, mantan biarawati Irene Handono , menyimpan perasaan bahwa Allah nir adil terhadap dirinya. Ia terus bertanya dan berusaha mencari jawaban mengapa beliau dilahirkan menjadi non-muslim. ''Kenapa aku tidak dilahirkan dari keluarga Muslim yang taat. Apa alasan Allah menjadikan saya sebagai mantan kafir,'' kata pemilik nama asli Han Hoo Lie ini. Hingga 1991, pertanyaan itu belum jua terjawab. Jawaban akan kegelisahan hatinya baru ada waktu menunaikan ibadah haji dalam 1992. Wanita berdarah Cina ini berangkat haji beserta 400 orang jamaah reguler lainnya yang tergabung pada kloter 18 menurut Embarkasi Surabaya. Di Tanah Haram, jawaban berdasarkan Allah itu didapatkannya. ''Ternyata Allah sayang kepada saya. Allah memilih aku menjadi galat satu hamba pilihan,'' ujar Irene saat ditemui di kediamannya, di Bekasi, beberapa ketika lalu. Ketika berada di Tanah Haram, Irene kerap mengalami peristiwa yang dinilainya luar biasa...

Inspirasi Muallaf - Kisah Bernard Nababan Jadi Mualaf

Menjadi seorang pendeta adalah harapan kedua orang tuanya. Namun, kehendak Allah SWT mengantarkan Bernard Nababan pada kebenaran Islam. Bahkan, ia akhirnya menjadi juru dakwah dalam agama Islam. Saya lahir di Tebing Tinggi, Sumatra Utara, 10 November 1966. Saya anak ke-3 dari tujuh bersaudara. Kedua orang tua memberi saya nama Bernard Nababan . Ayah saya adalah seorang pendeta Gereja HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) di Sumatra Utara. Sedangkan, ibu seorang pemandu lagu-lagu rohani di gereja. Sejak kecil kami mendapat bimbingan dan ajaran-ajaran kristiani. Orang tua saya sangat berharap salah seorang dari kami harus menjadi seorang pendeta. Sayalah salah satu dari harapan mereka. Kemudian, aku disekolahkan di lingkungan yg khusus mendidik para calon rahib, seperti Sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA) Kristen. Lalu berlanjut pada Sekolah Tinggi Teologi (STT) Nomensen, yaitu sekolah buat calon rahib di Medan. Di kampus STT ini saya mendapat pendidikan penuh. Saya harus mengikuti kegi...

Inspirasi Muallaf - Kisah Kepala Suku Asmat Jadi Mualaf

Kepala Suku Asmat Masuk Islam Kabar gembira datang dari pulau paling timur Indonesia, Papua. Di tengah memanasnya suhu politik Papua akibat ulah segelintir orang OPM, ternyata dakwah Islam terus menggeliat di bumi Nuu Waar. Adalah Ketua Yayasan Al-Fatih Kaaffah Nusantara (AFKN), Ustadz Fadzlan Garamatan yang mengungkapkan keterangan senang itu. Kepada Suara Islam Online, Rabu (28/12/2011), Ustadz Fadzlan mengabarkan bahwa lepas 17 Januari 2012 nanti seseorang ketua suku besar Asmat akan masuk Islam. Alhamdulillah, Allahu Akbar. "Di Nuu Waar, jikalau telah masuk Islam itu baru merdeka yang sesungguhnya", kata lelaki kelahiran Patipi, Fak-Fak, 17 Mei 1969 itu. Tentu masuknya kepala suku itu akan diikuti sang warganya. Berapa jumlah mereka?. "Tim kami masih menginvetarisir. Insya Allah nanti akan kami kabarkan", ucapnya. Ketika Suara Islam Online menyinggung soal ketakutan kalangan Kristen menggunakan menuduh AFKN dan Ustadz Fadzlan melakukan Islamisasi di Papua, put...

Inspirasi Muallaf - Misionaris Penantang Khatib Akhirnya Menjadi Mualaf

Gambar
Yusha Evans Masuk Islam Setelah Menantang Khatib Yusha Evans merupakan seorang misionaris muda yang lahir di South Carolina, Amerika Serikat. Dia dibesarkan oleh kakek (IndianAmerika) dan nenek (Irlandia) nya yang sangat konservatif dan selalu mengajarkannya berdoa sebelum makan, sebelum tidur, tidak boleh menyalakan musik keras-keras, tidak membawa perempuan ke rumah. ‘’Itu yang saya pelajari di sekolah Minggu,’’ ujar Yusha. Masa kecilnya dihabiskan bersama nenek dan kakeknya. Menginjak usia 14 tahun, neneknya mengajak Yusha ke sebuah pelayanan Sabtu yang benar-benar berbeda dengan apa yang dialaminya di sekolah Minggu. Di sana mereka bermain bola, voli, basket. Di pelayanan Sabtu, Yusha pula menemukan poly kuliner, kudapan manis, & permen. Di akhir rendezvous, pastor yang memimpin program itu mulai memberikan pedagogi tentang kepercayaan . Ia sangat menyukainya, karena tempat itu seperti sekolah normal. Ketika berumur 15 tahun, nenek Yusha meminta pastur belia yang biasa melayan...